Rumah-rumah di kawasan adat Kajang juga memiliki aksesoris khas berupa anjungan yang disebut anjoang. Bentuknya menyerupai tanduk kerbau atau dihiasi ukiran kayu. Anjoang tersebut melambangkan dunia atas dan dalam beberapa kosmologi masyarakat Kajang digambarkan berbentuk naga sebagai simbol penjaga langit.

Sementara itu, bubungan rumah atau timba laja tidak memiliki makna simbolik khusus terhadap kosmologi alam, melainkan berkaitan dengan struktur kepemimpinan adat Kajang. Struktur tersebut terdiri dari Ammatoa ri Kajang sebagai pemimpin adat, Karaeng Tallua yang berjumlah tiga orang, serta Ada’ Limayya yang mengatur wilayah Tanah Loheya dan Tanah Kekeya.

Keunikan arsitektur rumah adat Kajang atau yang dikenal sebagai Balla To Kajang menjadikannya bagian penting dari warisan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Tradisi membangun rumah adat tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Surat Penetapan Nomor 260/M/2017 tertanggal 29 September 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *