Dari sisi konstruksi, rumah masyarakat adat Kajang dikenal ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka. Atap rumah umumnya terbuat dari daun nipa atau alang-alang, sementara ijuk dan rotan digunakan sebagai pengikat rangka bangunan. Dinding serta lantai rumah banyak menggunakan bambu.
Menariknya, pembangunan rumah adat Kajang tidak memerlukan banyak kayu. Struktur utama rumah hanya menggunakan tiga balok pasak atau padongko yang dipasang melintang dari sisi kiri ke sisi kanan rumah. Untuk mengikat tiang-tiang rumah dalam satu jejeran, digunakan balok besar yang dipasang di bagian atas rumah.
Bagi masyarakat Kajang, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga memiliki makna filosofis. Rumah dipandang sebagai mikrokosmos dari hutan adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Balok-balok penyangga rumah melambangkan tangkai-tangkai pohon di hutan, yang kemudian diasosiasikan dengan tiang-tiang rumah.
Untuk menjaga kekuatan bangunan, tiang-tiang rumah ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar setengah depa atau paling dangkal satu siku.

